Kamis, 29 Desember 2011

PENGARUH KEBUDAYAAN JAWA TIMUR TERHADAP POLA ASUH

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Budaya Jawa merupakan salah satu kebudayaan yang dimiliki bangsa Indonesa yang didalam tradisinya memiliki nilai-nilai keluhuran dan kearifan budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa. Setiap tradisi dalam masyarakat Jawa memiliki arti dan makna filosofis yang mendalam dan luhur, yang mana tradisi ini sudah ada sejak zaman kuno saat kepercayaan masyarakat jawa masih animisme-dinamisme dan tradisi-tradisi Jawa ini semakin berkembang dan mengalami perubahan-perubahan seiring masuknya agama Hindu-Budha hingga Islam ke tanah Jawa. Menurut Piotr Sztompka, dalam arti sempit tradisi adaah kumpulan benda material dan gagasan yang diberi makna khusus yang berasal dari masa lalu. Kemunculan dan perubahan tradisi tersebut juga terjadi dalam tradisi Jawa, proses perubahan tradisi terjadi seperti berputarnya suatu roda yang kadang diatas dan kadang dibawah dan kadang muncul dan suatu saat timbul kembali sesuai dengan siklusnya. Menurut Suparman mengatakan “Suatu tradisi akan muncul dan tenggelam dikarenakan adanya dua faktor penyebab, yaitu faktor intern seperti kurangnya kesadaran dalam memelestarikan budaya dan faktor ekstern seperti adanya pengaruh budaya asing yang bertolak belakang dengan kebudayaan bangsa”. Dari tradisi-tradisi Jawa ini dapat diperoleh berbagai manfaat dan kegunaan kebudayaaan dimana budaya Jawa adalah budaya sarat dengan simbol-simbol yang dalam setiap simbolis-simbolnya memiliki makna leksikal maupun makna sense yang disebut piwulang kebecikan (ajaran kebaikan). Piwulang kebecikan inilah yang mengantarkan masyarakat Jawa pada sangkan paraning dumadi (arah tujuan hidupnya) yaitu menggapai hidup bahagia dunia dan akhirat (Suwardi, 2009).
Pengasuhan anak dilakukan dengan pola asuh tertentu. Penggunaan pola asuh ini memberikan sumbangan dalam mewarnai perkembangan bentuk bentuk perilaku social anak. Pola asuh yang diberikan pada anak berbeda beda. Hal ini sangat dipengaruhi oleh dua factor yaitu factor internal dan eksternal. Yang termasuk factor internal adalah latar belakang keluarganya, factor usia orang tua dan anak, pendidikan dan wawasan orang tuanya, jenis kelamin orangtua dan anak, dan konsep peranan orangtua dalam keluarga. Faktor eksternal terdiri dari tradisi yang berlaku dalam lingkungannya, social ekonomi lingkungan dan semua hal yang berasal dari luar keluarga tersebut yang bisa mempengaruhi keluarga tersebut dalam menerapkan pola asuh, Menurut Riyanto (2002) Dalam mengasuh anak orang tua bukan hanya mampu mengkomunikasikan fakta, gagasan dan pengetahuan saja, melainkan membantu menumbuh kembangkan kepribadian anak.

2. Fenomena Yang Terjadi
Budaya Jawa saat ini semakin terdesak oleh arus perkembangan zaman atau globalisasi, perubahan masyarakat Jawa juga terjadi sangat signifikan dari perubahan pola bahasa hingga tingkah laku, dan pola asuh terhadap anak . Jamaris (2005) berpendapat bahwa karakter dan integritas perkembangan anak terbentuk pertama-tama di lingkungan keluarga. Di lingkungan kecil itulah individu mengenal dan belajar tentang berbagai tata nilai melalui pendidikan yang diberikan, tata nilai akan ditumbuhkembangkan agar yang bersangkutan siap memasuki dunia nyata di luar kehidupan keluarga.

3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk lebih memahami dan mengetahui bagaimana gambaran mengenai pengaruh budaya yang dianut khusunya jawa timur terhadap pola asuh anak dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi budaya terhadap pola asuh yang diterapkan.
4. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Kualitatif. Metode kualitatif didefinisikan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati (Bogdan & Taylor, 1975). Prof.Dr. Lexy J. Moleong menyimpulkan penelitian kualitatif adalah "penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah."






5. Umum Khusus
Dalam penelitian ini menggunakan bahasan dari umum ke khusus. Penelitian ini akan menjabarkan secara umum tentang pola asuh yang dipengaruhi oleh budaya khusunya budaya jawa timur.Pola asuh akan dijabarkan secara keseluruhan setelah itu dikaitkan dengan budaya yang mempengaruhi pola asuh tersebut secara khusus dan spesifik.




























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Pengaruh

1. Pengertian Pengaruh
Pengertian Pengaruh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang (dalam widyatama, 2002,849). Sedangkan menurut Badudu dan Zain , Pengaruh adalah (1) Daya yang menyebabkan sesuatu terjadi, (2) sesuatu yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain dan (3) tunduk atau mengikuti karena kuasa atau kekuatan orang lain (dalam Widyatama,1994,1031).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pengaruh merupakan suatu daya yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain.

B. Kebudayaan
1. Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
C. Jawa Timur
1. Pengertian Jawa Timur
Jawa Timur adalah sebuah provinsi di bagian timur Pulau Jawa, Indonesia. Ibukotanya adalah Surabaya. Luas wilayahnya 47.922 km², dan jumlah penduduknya 37.070.731 jiwa (2005). Jawa Timur memiliki wilayah terluas di antara 6 provinsi di Pulau Jawa, dan memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Jawa Timur berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Selat Bali di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Provinsi Jawa Tengah di barat. Wilayah Jawa Timur juga meliputi Pulau Madura, Pulau Bawean, Pulau Kangean serta sejumlah pulau-pulau kecil di Laut Jawa dan Samudera Hindia(Pulau Sempu dan Nusa Barung).
a. Kesenian
Jawa Timur memiliki sejumlah kesenian khas. Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial, dan umumnya dibuka dengan Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang; meski keberadaannya semakin dikalahkan dengan modernisasi.
Reog yang sempat diklaim sebagai tarian dari Malaysia merupakan kesenian khas Ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, reog kini juga menjadi icon kesenian Jawa Timur. Pementasan reog disertai dengan jaran kepang (kuda lumping) yang disertai unsur-unsur gaib. Seni terkenal Jawa Timur lainnya antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timuran, topeng dalang di Madura, dan besutan. Di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti ketoprak dan wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur antara lain Damarwulan, Angling Darma, dan Sarip Tambak-Oso.Seni tari tradisional di Jawa Timur secara umum dapat dikelompokkan dalam gaya Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, tarian Jawa gaya Osing, dan trian gaya Madura. Seni tari klasik antara lain tari gambyong, tari srimpi, tari bondan, dan kelana.
Terdapat pula kebudayaan semacam barong sai di Jawa Timur. Kesenian itu ada di dua kabupaten yaitu, Bondowoso dan Jember. Singo Wulung adalah kebudayaan khas Bondowoso. Sedangkan Jember memiliki macan kadhuk. Kedua kesenian itu sudah jarang ditemui.
b. Budaya dan adat istiadat
Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Pacitan), eks-Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan ini.
Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tuban, Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini. Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta.
Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat besarnya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.
Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain: tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang lahirnya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.
Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Masyarakat di pesisir barat: Tuban, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria, berbeda dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di Indonesia, dimana pihak pria melamar wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam keluarga wanita. Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan kirim donga pada hari ke-1, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, 1 tahun, dan 3 tahun setelah kematian.
1. Era klasik
Prasasti Dinoyo yang ditemukan di dekat Kota Malang adalah sumber tertulis tertua di Jawa Timur, yakni bertahun 760. Pada tahun 929, Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, serta mendirikan Wangsa Isyana yang kelak berkembang menjadi Kerajaan Medang, dan sebagai suksesornya adalah Kerajaan Kahuripan, Kerajaan Janggala, dan Kerajaan Kadiri. Pada masa Kerajaan Singhasari, Raja Kertanagara melakukan ekspansi hingga ke Melayu. Pada era Kerajaan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk, wilayahnya hingga mencapai Malaka dan Kepulauan Filipina.
Bukti awal masuknya Islam ke Jawa Timur adalah adanya makam nisan di Gresik bertahun 1102, serta sejumlah makam Islam pada kompleks makam Majapahit. Tetapi setelah penemuan munculnya candi Jedong di Daerah Wagir , Malang , Jawa Timur yang diyakini lebih tua dari Prasasti Dinoyo , yakni sekitar abad 6 Masehi.
2. Kolonialisme
Bangsa Portugis adalah bangsa barat yang pertama kali datang di Jawa Timur. Kapal Belanda dipimpin oleh Cornelis de Houtman mendarat di Pulau Madura pada tahun 1596. Surabaya jatuh ke tangan VOC pada tanggal 13 Mei 1677. Ketika pemerintahan Stamford Raffles, Jawa Timur untuk pertama kalinya dibagi atas karesidenan, yang berlaku hingga tahun 1964.
Era Kemerdekaan

Kantor gubernur Jawa Timur di Surabaya di tahun 1951
Setelah kemerdekaan Indonesia, Indonesia terbagi menjadi 8 provinsi dan Jawa Timur termasuk salah satu provinsi tersebut. Gubernur pertama Jawa Timur adalah R. Soerjo, yang juga dikenal sebagai pahlawan nasional.
c. Suku bangsa
Mayoritas penduduk Jawa Timur adalah Suku Jawa, namun demikian, etnisitas di Jawa Timur lebih heterogen. Suku Jawa menyebar hampir di seluruh wilayah Jawa Timur daratan. Suku Madura mendiami di Pulau Madura dan daerah Tapal Kuda (Jawa Timur bagian timur), terutama di daerah pesisir utara dan selatan. Di sejumlah kawasan Tapal Kuda, Suku Madura bahkan merupakan mayoritas. Hampir di seluruh kota di Jawa Timur terdapat minoritas Suku Madura, umumnya mereka bekerja di sektor informal.
Suku Tengger, konon adalah keturunan pelarian Kerajaan Majapahit, tersebar di Pegunungan Tengger dan sekitarnya. Suku Osing tinggal di sebagian wilayah Kabupaten Banyuwangi. Orang Samin tinggal di sebagian pedalaman Kabupaten Bojonegoro.
Selain penduduk asli, Jawa Timur juga merupakan tempat tinggal bagi para pendatang. Orang Tionghoa adalah minoritas yang cukup signifikan dan mayoritas di beberapa tempat, diikuti dengan Arab; mereka umumnya tinggal di daerah perkotaan. Suku Bali juga tinggal di sejumlah desa di Kabupaten Banyuwangi. Dewasa ini banyak ekspatriat tinggal di Jawa Timur, terutama di Surabaya dan sejumlah kawasan industri lainnya.
d. Bahasa
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang berlaku secara nasional, namun demikian Bahasa Jawa dituturkan oleh sebagian besar Suku Jawa. Bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Timur memiliki beberapa dialek/logat. Di daerah Mataraman (eks-Karesidenan Madiun dan Kediri), Bahasa Jawa yang dituturkan hampir sama dengan Bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Solo-an). Di daerah pesisir utara bagian barat (Tuban dan Bojonegoro), dialek Bahasa Jawa yang dituturkan mirip dengan yang dituturkan di daerah Blora-Rembang di Jawa Tengah.
Dialek Bahasa Jawa di bagian tengah dan timur dikenal dengan Bahasa Jawa Timuran, yang dianggap bukan Bahasa Jawa baku. Ciri khas Bahasa Jawa Timuran adalah egaliter, blak-blakan, dan seringkali mengabaikan tingkatan bahasa layaknya Bahasa Jawa Baku, sehingga bahasa ini terkesan kasar. Namun demikian, penutur bahasa ini dikenal cukup fanatik dan bangga dengan bahasanya, bahkan merasa lebih akrab. Bahasa Jawa Dialek Surabaya dikenal dengan Boso Suroboyoan. Dialek Bahasa Jawa di Malang umumnya hampir sama dengan Dialek Surabaya. Dibanding dengan bahasa Jawa dialek Mataraman (Ngawi sampai Kediri), bahasa dialek malang termasuk bahasa kasar dengan intonasi yang relatif tinggi. Sebagai contoh, kata makan, jika dalam dialek Mataraman diucapkan dengan 'maem' atau 'dhahar', dalam dialek Malangan diucapkan 'mangan'. Salah satu ciri khas yang membedakan antara bahasa arek Surabaya dengan arek Malang adalah penggunaan bahasa terbalik yang lazim dipakai oleh arek-arek Malang. Bahasa terbalik Malangan sering juga disebut sebagai bahasa walikan atau osob kiwalan. Berdasarkan penelitian Sugeng Pujileksono (2007), kosa kata (vocabulary) bahasa walikan Malangan telah mencapai lebih dari 250 kata. Mulai dari kata benda, kata kerja, kata sifat. Kata-kata tersebut lebih banyak diserap dari bahasa Jawa, Indonesia, sebagian kecil diserap dari bahasa Arab, Cina dan Inggris. Beberapa kata yang diucapkan terbalik, misalnya mobil diucapkan libom, dan polisi diucapkan silup. Produksi bahasa walikan Malangan semakin berkembang pesat seiring dengan munculnya supporter kesebelasan Arema (kini Arema Indonesia)yang sering disebut Aremania. Bahasa-bahasa walikan banyak yang tercipta dari istilah-istilah di kalangan supporter. Seperti retropus elite atau supporter elit. Otruham untuk menyebut supporter dari wilayah Muharto. Saat ini Bahasa Jawa merupakan salah satu mata pelajaran muatan lokal yang diajarkan di sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SLTA.
Bahasa Madura dituturkan oleh Suku Madura di Madura maupun di mana pun mereka tinggal. Bahasa Madura juga dikenal tingkatan bahasa seperti halnya Bahasa Jawa, yaitu enja-iya (bahasa kasar), engghi-enten (bahasa tengahan), dan engghi-bhunten (bahasa halus). Dialek Sumenep dipandang sebagai dialek yang paling halus, sehingga dijadikan bahasa standar yang diajarkan di sekolah. Di daerah Tapal Kuda, sebagian penduduk menuturkan dalam dua bahasa: Bahasa Jawa dan Bahasa Madura. Kawasan kepulauan di sebelah timur Pulau Madura menggunakan Bahasa Madura dengan dialek tersendiri, bahkan dalam beberapa hal tidak dimengerti oleh penutur Bahasa Madura di Pulau Madura (mutually unintellegible).
Suku Osing di Banyuwangi menuturkan Bahasa Osing. Bahasa Tengger, bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Suku Tengger, dianggap lebih dekat dengan Bahasa Jawa Kuna.
Penggunaan bahasa daerah kini mulai dipromosikan kembali. Sejumlah stasiun televisi lokal kembali menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada beberapa acaranya, terutama berita dan talk show, misalnya JTV memiliki program berita menggunakan Boso Suroboyoan, Bahasa Madura, dan Bahasa Jawa Tengahan.

D. Pola Asuh
1. Pengertian Pola Asuh
Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu .pola. dan .asuh.. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, .pola berarti corak, model, sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap Sedangkan kata .asuh dapat berati menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, membimbing (membantu; melatih dan sebagainya), dan memimpin (mengepalai dan menyelenggarakan) satu badan atau lembaga. ( dalam yusniyah ,Depdikbud,1988). Lebih jelasnya, kata asuh adalah mencakup segala aspek yang berkaitan dengan pemeliharaan, perawatan, dukungan, dan bantuan sehingga orang tetap berdiri dan menjalani hidupnya secara sehat.( dalam yusniyah, Elaine Danelson, 1990).
Menurut Dr. Ahmad Tafsir seperti yang dikutip oleh Danny I. Yatim-Irwanto .Pola asuh berarti pendidikan, sedangkan pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (dalam yusniyah, Danny I. Yatim-Irwanto, 1991). Jadi pola asuh orang tua adalah suatu keseluruhan interaksi antara orang tua dengan anak, di mana orang tua bermaksud menstimulasi anaknya dengan mengubah tingkah laku, pengetahuan serta nilai-nilai yang dianggap paling tepat oleh orang tua, agar anak dapat mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal.

2. Macam-macam Pola Asuh Orang Tua
Dalam mengelompokkan pola asuh orang tua dalam mendidik anak, para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda, yang antara satu sama lain hampir mempunyai persamaan. Di antaranya adalah sebagai berikut :
Dr. Paul Hauck menggolongkan pengelolaan anak ke dalam empat macam pola, yaitu:

1. Kasar dan tegas
Orang tua yang mengurus keluarganya menurut skema neurotik menentukan peraturan yang keras dan teguh yang tidak akan di ubah dan mereka membina suatu hubungan majikan-pembantu antara mereka sendiri dan anak-anak mereka.

2. Baik hati dan tidak tegas
Metode pengelolaan anak ini cenderung membuahkan anak-anak nakal yang manja, yang lemah dan yang tergantung, dan yang bersifat kekanak-kanakan secara emosional.
3. Kasar dan tidak tegas
Inilah kombinasi yang menghancurkan kekasaran tersebut biasanya diperlihatkan dengan keyakinan bahwa anak dengan sengaja berprilaku buruk dan ia bisa memperbaikinya bila ia mempunyai kemauan untuk itu.
4. Baik hati dan tegas
Orang tua tidak ragu untuk membicarakan dengan anak-anak mereka tindakan yang mereka tidak setujui. Namun dalam melakukan ini, mereka membuat suatu batas hanya memusatkan selalu pada tindakan itu sendiri, tidak pernah si anak atau pribadinya.

Drs. H. Abu Ahmadi mengemukakan bahwa, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fels Research Institute, corak hubungan orang tua-anak dapat dibedakan menjadi tiga pola, yaitu :

1. Pola menerima-menolak, pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak.
2. Pola memiliki-melepaskan, pola ini didasarkan atas sikap protektif orang tua terhadap anak. Pola ini bergerak dari sikap orang tua yang overprotektif dan memiliki anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali.
3. Pola demokrasi-otokrasi, pola ini didasarkan atas taraf partisifasi anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai diktator terhadap anak, sedangkan dalam pola demokrasi, sampai batas-batas tertentu, anak dapat berpartisifasi dalam keputusan-keputusan keluarga.

Menurut Elizabet B. Hurlock ada beberapa sikap orang tua yang khas dalam mengasuh anaknya, antara lain :
1. Melindungi secara berlebihan
Perlindungan orang tua yang berlebihan mencakup pengasuhan dan pengendalian anak yang berlebihan.
2. Permisivitas
Permisivitas terlihat pada orang tua yang membiarkan anak berbuat sesuka hati dengan sedikit pengendalian.
3. Memanjakan
Permisivitas yang berlebih-memanjakan membuat anak egois, menuntut dan sering tiranik.
4. Penolakan
Penolakan dapat dinyatakan dengan mengabaikan kesejahteraan anak atau dengan menuntut terlalu banyak dari anak dan sikap bermusuhan yang terbuka.
5. Penerimaan
Penerimaan orang tua ditandai oleh perhatian besar dan kasih sayang pada anak, orang tua yang menerima, memperhatikan perkembangan kemampuan anak dan memperhitungkan minat anak.
6. Dominasi
Anak yang didominasi oleh salah satu atau kedua orang tua bersifat jujur, sopan dan berhati-hati tetapi cenderung malu, patuh dan mudah dipengaruhi orang lain, mengalah dan sangat sensitif.
7. Tunduk pada anak
Orang tua yang tunduk pada anaknya membiarkan anak mendominasi mereka dan rumah mereka.
8. Favoritisme
Meskipun mereka berkata bahwa mereka mencintai semua anak dengan sama rata, kebanyakan orang tua mempunyai favorit. Hal ini membuat mereka lebih menuruti dan mencintai anak favoritnya dari pada anak lain dalam keluarga.
9. Ambisi orang tua
Hampir semua orang tua mempunyai ambisi bagi anak mereka seringkali sangat tinggi sehingga tidak realistis. Ambisi ini sering dipengaruhi oleh ambisi orang tua yang tidak tercapai dan hasrat orang tua supaya anak mereka naik di tangga status sosial.

Danny I. Yatim-Irwanto mengemukakan beberapa pola asuh orang tua,
yaitu :
1. Pola asuh otoriter, pola ini ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi.
2. Pola asuh demokratik, pola ini ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya.
3. Pola asuh permisif, pola asuhan ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya.
4. Pola asuhan dengan ancaman, ancaman atau peringatan yang dengan keras diberikan pada anak akan dirasa sebagai tantangan terhadap otonomi dan pribadinya. Ia akan melanggarnya untuk menunjukkan bahwa ia mempunyai harga diri.
5. Pola asuhan dengan hadiah, yang dimaksud disini adalah jika orang tua mempergunakan hadiah yang bersifat material atau suatu janji ketika menyuruh anak berprilaku seperti yang diinginkan.
Thomas Gordon mengemukakan metode pengelolaan anak, yaitu :
a. Pola asuh menang
b. Pola asuh mengalah
c. Pola asuh tidak menang dan tidak kalah.

Menurut Syamsu Yusuf terdapat 7 macam bentuk pola asuh yaitu :
a. Overprotection ( terlalu melindungi )
b. Permisivienes ( pembolehan )
c. Rejection ( penolakan )
d. Acceptance ( penerimaan )
e. Domination ( dominasi )
f. Submission ( penyerahan )
g. Over disipline ( terlalu disiplin )

Sedangkan Marcolm Hardy dan Steve Heyes mengemukakan empat macam pola asuh yang dilakukan orang tua dalam keluarga, yaitu :
a. Autokratis (otoriter)
Ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua dan kebebasan anak sangat di batasi.
b. Demokratis
Ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dan anak.
c. Permisif
Ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berprilaku sesuai dengan keinginannya sendiri.
d. Laissez faire
Ditandai dengan sikap acuh tak acuh orang tua terhadap anaknya.

Dari berbagai macam pola asuh yang dikemukakan di atas, penulis hanya akan mengemukakan tiga macam saja, yaitu pola asuh otoriter, demokratis dan laissez faire. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar pembahasan menjadi lebih terfokus dan jelas. Oleh karena, jika dilihat dari berbagai macam bentuk pola asuh di atas pada intinya hampir sama. Misalnya saja antara pola asuh autokratis, over protection, over discipline. Dominasi, favoritisme, ambisi orang tua dan otoriter, semuanya menekankan pada sikap kekuasaan, kedisiplinan dan kepatuhan yang berlebihan. Demikian pula halnya dengan pola asuh laissez faire, rejection, submission, permisiveness, memanjakan. Secara implisit, kesemuanya itu memperlihatkan suatu sikap yang kurang berwibawa, bebas, acuh tak acuh. Adapun acceptance (penerimaan) bisa termasuk bagian dari pola asuh demokratis. Oleh karena itulah, maka penulis hanya akan membahas tiga macam pola asuh, yang secara teoritis lebih dikenal bila dibandingkan dengan yang lainnya. Yaitu pola asuh otoriter, demokratis dan laissez faire.

1. Otoriter
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, otoriter .berarti berkuasa sendiri dan sewenang-wenang. Menurut Singgih D. Gunarsa dan Ny.Y. Singgih D. Gunarsa, pola asuh otoriter adalah suatu bentuk pola asuh yang menuntut anak agar patuh dan tunduk terhadap semua perintah dan aturan yang dibuat oleh orang tua tanpa ada kebebasan untuk bertanya atau mengemukakan pendapatnya sendiri.
Jadi pola asuh otoriter adalah cara mengasuh anak yang dilakukan orang tua dengan menentukan sendiri aturan-aturan dan batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak tanpa kompromi dan memperhitungkan keadaan anak. Serta orang tualah yang berkuasa menentukan segala sesuatu untuk anak dan anak hanyalah sebagai objek pelaksana saja. Jika anak-anaknya menentang atau membantah, maka ia tak segan-segan memberikan hukuman. Jadi, dalam hal ini kebebasan anak sangatlah dibatasi. Apa saja yang dilakukan anak harus sesuai dengan keinginan orang tua. Pada pola asuhan ini akan terjadi komunikasi satu arah. Orang tualah yang memberikan tugas dan menentukan berbagai aturan tanpa memperhitungkan keadaan dan keinginan anak. Perintah yang diberikan berorientasi pada sikap keras orang tua. Karena menurutnya tanpa sikap keras tersebut anak tidak akan melaksanakan tugas dan kewajibannya. Jadi anak melakukan perintah orang tua karena takut, bukan karena suatu kesadaran bahwa apa yang dikerjakannya itu akan bermanfaat bagi kehidupannya kelak.
Penerapan pola asuh otoriter oleh orang tua terhadap anak, dapat mempengaruhi proses pendidikan anak terutama dalam pembentukan kepribadiannya. Karena disiplin yang dinilai efektif oleh orang tua (sepihak), belum tentu serasi dengan perkembangan anak. Prof. Dr. Utami Munandar mengemukakan bahwa, .sikap orang tua yang otoriter paling tidak menunjang perkembangan kemandirian dan tanggung jawab sosial. Anak menjadi patuh, sopan, rajin mengerjakan pekerjaan sekolah, tetapi kurang bebas dan kurang percaya diri Disini perkembangan anak itu semata-mata ditentukan oleh orang tuanya. Sifat pribadi anak yang otoriter biasanya suka menyendiri, mengalami kemunduran kematangannya, ragu-ragu di dalam semua tindakan, serta lambat berinisiatif. Anak yang dibesarkan di rumah yang bernuansa otoriter akan mengalami perkembangan yang tidak diharapkan orang tua. Anak akan menjadi kurang kreatif jika orang tua selalu melarang segala tindakan anak yang sedikit menyimpang dari yang seharusnya dilakukan. Larangan dan hukuman orang tua akan menekan daya kreativitas anak yang sedang berkembang, anak tidak akan berani mencoba, dan ia tidak akan mengembangkan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena tidak dapat kesempatan untuk mencoba. Anak juga akan takut untuk mengemukakan pendapatnya, ia merasa tidak dapat mengimbangi temantemannya dalam segala hal, sehingga anak menjadi pasif dalam pergaulan. Lamalama ia akan mempunyai perasaan rendah diri dan kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.
Karena kepercayaan terhadap diri sendiri tidak ada, maka setelah dewasapun masih akan terus mencari bantuan, perlindungan dan pengamanan. Ini berarti anak tidak berani memikul tanggung jawab. Adapun ciri-ciri dari pola asuh otoriter adalah sebagai berikut :
a. Anak harus mematuhi peraturan-peraturan orang tua dan tidak boleh membantah.
b. Orang tua cenderung mencari kesalahan-kesalahan anak dan kemudian menghukumnya.
c. Orang tua cenderung memberikan perintah dan larangan kepada anak.
d. Jika terdapat perbedaan pendapat antara orang tua dan anak, maka anak dianggap pembangkang.
e. Orang tua cenderung memaksakan disiplin.
f. Orang tua cenderung memaksakan segala sesuatu untuk anak dan anak hanya sebagai pelaksana.
g. Tidak ada komunikasi antara orang tua dan anak.




2. Demokratis
Menurut Prof. Dr. Utami Munandar, .Pola asuh demokratis adalah cara mendidik anak, di mana orang tua menentukan peraturan-peraturan tetapi dengan memperhatikan keadaan dan kebutuhan anak.
Pola asuh demokratis adalah suatu bentuk pola asuh yang memperhatikan dan menghargai kebebasan anak, namun kebebasan itu tidak mutlak dan dengan bimbingan yang penuh pengertian antara orang tua dan anak. Dengan kata lain, pola asuh demokratis ini memberikan kebebasan kepada anak untuk mengemukakan pendapat, melakukan apa yang diinginkannya dengan tidak melewati batas-batas atau aturan-aturan yang telah ditetapkan orang tua. Adapun ciri-ciri pola asuh demokratis adalah sebagai berikut :
a. Menentukan peraturan dan disiplin dengan memperhatikan dan mempertimbangkan alasan-alasan yang dapat diterima, dipahami dan dimengerti oleh anak
b. Memberikan pengarahan tentang perbuatan baik yang perlu dipertahankan dan yang tidak baik agar di tinggalkan
c. Memberikan bimbingan dengan penuh pengertian
d. Dapat menciptakan keharmonisan dalam keluarga
e. Dapat menciptakan suasana komunikatif antara orang tua dan anak serta sesama keluarga
Dari berbagai macam pola asuh yang banyak dikenal, pola asuh demokratis mempunyai dampak positif yang lebih besar dibandingkan dengan pola asuh otoriter maupun laissez faire. Dengan pola asuh demokratis anak akan menjadi orang yang mau menerima kritik dari orang lain, mampu menghargai orang lain, mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan mampu bertanggung jawab terhadap kehidupan sosialnya. Tidak ada orang tua yang menerapkan salah satu macam pola asuh dengan murni, dalam mendidik anak-anaknya. Orang tua menerapkan berbagai macam pola asuh dengan memiliki kecenderungan kepada salah satu macam pola.

3. Laissez Faire
Kata laissez faire berasal dari Bahasa Perancis yang berarti membiarkan (leave alone). Dalam istilah pendidikan, laissez faire adalah suatu sistim di mana si pendidik menganut kebijaksanaan non intereference (tidak turut campur).Pola asuhan ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas pada anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua tidak pernah member aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa pertimbangan orang tua. Anak tidak tahu apakah prilakunya benar atau salah karena orang tua tidak pernah membenarkan ataupun menyalahkan anak. Akibatnya anak akan berprilaku sesuai dengan keinginanya sendiri, tidak peduli apakah hal itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak.
Pada pola asuh ini anak dipandang sebagai makhluk hidup yang berpribadi bebas. Anak adalah subjek yang dapat bertindak dan berbuat menurut hati nuraninya. Orang tua membiarkan anaknya mencari dan menentukan sendiri apa yang diinginkannya. Kebebasan sepenuhnya diberikan kepada anak. Orang tua seperti ini cenderung kurang perhatian dan acuh tak acuh terhadap anaknya. Metode pengelolaan anak ini cenderung membuahkan anak-anak nakal yang manja, lemah, tergantung dan bersifat kekanak-kanakan secara emosional. Seorang anak yang belum pernah diajar untuk mentoleransi frustasi, karena ia diperlakukan terlalu baik oleh orang tuanya, akan menemukan banyak masalah ketika dewasa. Dalam perkawinan dan pekerjaan, anak-anak yang manja tersebut mengharapkan orang lain untuk membuat penyesuaian terhadap tingkah laku mereka. Ketika mereka kecewa mereka menjadi gusar, penuh kebencian, dan bahkan marah-marah. Pandangan orang lain jarang sekali dipertimbangkan. Hanya pandangan mereka yang berguna. Kesukaran-kesukaran yang terpendam antara pandangan suami istri atau kawan sekerja terlihat nyata. Adapun yang termasuk pola asuh laissez faire adalah sebagai berikut :
a. Membiarkan anak bertindak sendiri tanpa memonitor dan membimbingnya.
b. Mendidik anak acuh tak acuh, bersikap pasif dan masa bodoh.
c. Mengutanakan kebutuhan material saja.
d. Membiarkan saja apa yang dilakukan anak (terlalu memberikan kebebasan untuk mengatur diri sendiri tanpa ada peraturan-peraturan dan norma-norma yang digariskan orang tua).
e. Kurang sekali keakraban dan hubungan yang hangat dalam keluarga.
Setiap tipe pengasuhan pasti memiliki resiko masing-masing. Tipe otoriter memang memudahkan orang tua, karena tidak perlu bersusah payah untuk bertanggung jawab dengan anak. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh seperti ini mungkin memang tidak memiliki masalah dengan pelajaran dan juga bebas dari masalah kenakalan remaja. Akan tetapi cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki kepercayaan diri, kurang kreatif, kurang dapat bergaul dengan lingkungan sosialnya, ketergantungan kepada orang lain, serta memiliki defresi yang lebih tinggi. Sementara pola asuh laissez faire, membuat anak merasa boleh berbuat sekehendak hatinya. Anak memang akan memiliki rasa percaya yang lebih besar, kemampuan sosial baik, dan tingkat depresi lebih rendah. Tapi juga akan lebih mungkin terlibat dalam kenakalan remaja dan memiliki prestasi yang rendah di sekolah. Anak tidak mengetahuyi norma-norma sosial yang harus dipatuhinya. Anak membutuhkan dukungan dan perhatian dari keluarga dalam menciptakan karyanya. Karena itu, pola asuh yang dianggap lebih cocok untuk membantu anak mengembangkan kreativitasnya adalah otoratif atau biasa lebih dikenal dengan demokratis. Dalam pola asuh ini, orang tua memberi control terhadap anaknya dalam batas-batas tertentu, aturan untuk hal-hal yang esensial saja, dengan tetap menunjukkan dukungan, cinta dan kehangatan kepada anaknya. Melalui pola asuh ini anak juga dapat merasa bebas mengungkapkan kesulitannya, kegelisahannya kepada orang tua karena ia tahu, orang tua akan membantunya mencari jalan keluar tanpa berusaha mendiktenya.


3. Faktor - faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh

Hurlock (1993) ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh, yaitu:
a. Pendidikan orang tua
Orang tua yang mendapat pendidikan yang baik, cenderung menetapkan pola asuh yang lebih demokratis ataupun permisif dibandingkan dengan orang tua yang pendidikannya terbatas. Pendidikan membantu orang tua untuk lebih memahami kebutuhan anak.
b. Kelas Sosial
Orang tua dari kelas sosial menengah cenderung lebih permisif dibanding dengan orang tua dari kelas sosial bawah.


c. Konsep tentang peran orang tua
Tiap orang tua memiliki konsep yang berbeda-beda tentang bagaimana seharusnya orang tua berperan. Orang tua dengan konsep tradisional cenderung memilih pola asuh yang ketat dibanding orang tua dengan konsep nontradisional.
d. Kepribadian orang tua
Pemilihan pola asuh dipengaruhi oleh kepribadian orang tua. Orang tua yang berkepribadian tertutup dan konservatif cenderung akan memperlakukan anak dengan ketat dan otoriter.
e. Kepribadian Anak
Tidak hanya kepribadian orang tua saja yang mempengaruhi pemilihan pola asuh, tetapi juga kepribadian anak. Anak yang ekstrovert akan bersifat lebih terbuka terhadap rangsangan-rangsangan yang datang pada dirinya dibandingkan dengan anak yang introvert.
f. Usia anak
Tingkah laku dan sikap orang tua dipengaruhi oleh anak. Orang tua yang memberikan dukungan dan dapat menerima sikap tergantung anak usia pra sekolah dari pada anak.

4. Dimensi Pola Asuh Orang Tua
Baumrind (1994) mengemukakan 4 dimensi pola asuh yaitu:
a. Kendali Orang Tua (Control): tingkah menunjukan pada upaya orang tua dalam menerapkan kedisiplinan pada anak sesuai dengan patokan laku yang sudah dibuat sebelumnya.
b. Kejelasan Komunikasi Orang Tua-anak (Clarity Of Parent Child Communication): menunjuk kesadaran orang tua untuk mendengarkan atau menampung pendapat, keinginan atau keluhan anak, dan juga kesadaran orang tua dalam memberikan hukuman kepada anak bila diperlukan.
c. Tuntutan Kedewasaan (Maturity Demands): menunjuk pada dukungan prestasi, social, dan emosi orang tua terhadap anak.
d. Kasih Sayang (Nurturance): menunjuk pada kehangatan dan keterlibatan orang tua dalam memperlihatkan kesejahteraan dan kebahagiaan anak.


HASIL WAWANCARA

Wawancara subjek 1

I. Subjek
1. Identitas Subjek
Nama (Inisial) : F
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 31 tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : Sarjana
Alamat : Depok
Status : Menikah
Anak : 2
2. Latar Belakang Subjek
1. Apa anda disuh oleh orang tuya anda sendiri atau diasuh oleh wali? Iya diasuh orang tua sendiri
2. Bagaimana menurut anda sitem pola asuh yang anda terima? Ehm..penuh dengan kasih sayang.. orang tua saya tidak pernah menuntut kepada saya misalnya untuk selalu mendapat nilai bagus, rangking, termasuk menentukan jalan hidup yang saya pilih mulai dari menentukan sekolah, pekerjaan, dll. Mereka hanya menanamkan pendidikan moral pada saya selanjutnya terserah saya…
3. Apa anda menyukai pola asuh yang mereka berikan terhadap anda? Tentu kalau tidak saya tidak bisa jadi seperti ini..
4. Pada saat anda masih diasuh oleh orang tua, anda berdomisili? Di jawa…
5. Apakah kebudayaan tempat anda berdomisili pada saat itu mempengaruhi orang tua anda dalam mengasuh anda? Ya tentu…adat istiadat, sopan santun, semua terkait dengan budaya di jawa..
6. Bagaimana kebudayaan anda khususnya jawa timur mengatur cara mengasuh anak? Ya dalam kebudayaan jawa timur cara mengasuh anak mungkin sama dengan budaya budaya lainnya mulai dari mengajarkan kebaikan, sopan santun dengan orang tua mulai dari berbicara sampai bertingkah laku. Kalau di tempat saya untuk berbicara dengan orang yang lebih tua menggunakan bahasa yang berbedaa dengan berbicara dengan sebaya..kalau dengan orang tua menggunakan kromo inggil yang lebih halus bahasanya dan kalau sebaya menggunakan bahasa biasa..
7. Apakah pola asuh itu mempengaruhi , kehidupan anda sehari-hari? Tentu saja mempengaruhi… pola asuh dari orang tua kita merupakan dasar dalam membentuk kepribadian kita
8. Apakah pola asuh yang anda terima terdapat unsure-unsur budaya didalamnya? Tentu kan saya dulu tinggal di jawa yang disana sangat kental dengan budaya..
9. Sekarang anda kan sudah menikah, bagaimana anda memberikan pola asuh kepada anak anda sama dengan pola asuh yang anda terima? tentu saja..tapi mungkin saya akan menerapkan pola asuh yang sesuai dan yang kurang cocok mungkin akan saya tinggalkan
10. Seperti apakah pola asuh yang sesuai dan tidak sesuai menurut anda? Ya mungkin kalau yang sesuai ya mengenai kebaikan, sopan santun, kejujuran, dsb. Kalau yang kurang sesuai adalah kurangnya kemandirian dan kreativitas anak karena orang tua saya memantau bagaimana keadaan saya dan melarang saya apabila saya melkukan aktivitas yang membahayakan seperti naik gunung, main di sungai..tetapi saya sering melakukan aktivitas itu diam diam kemudian setelah itu baru saya ngomong sama orang tua..
11. Sekarang kan anda tinggal di depok, anda mempunyai 2 anak, bagaimana anda mengasuh anak anda? System apa yang anda terrapkan? Ehm..saya mengasuh anak dengan menerapkan pendidikan moral yang kuat..dengan moral yang kuat menjadikan kepribadian yang kuat sehingga dia tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan…
12. Apakah kebudayaan di tempat anda tinggal sekarang mempengaruhi anda dalam mendidik buah hati anda? Bagaimana? Iya saya pilah pilah yg sesuai saya terapkan yang tidak saya tinggalkan,Saya tetap menerapkan pola asuh yang seperti apa yang saya terima dari orang tua saya sesuai dengan budaya jawa timur yang saya peroleh
13. Bahasa apa yang anda pergunakan dalam mendidik anak? Bahasa Indonesia tetapi dalam kehidupan sehari hari saya menggunakan bahasa pengantar bahasa jawa soalnya istri dan pembantu saya orang jawa.
14. Masakan apa yang biasa anda makan sehari hari? Masakan jawa di rumah istri saya selalu menyediakan masakan jawa..



3. Daftar Pertanyaan
1. Dimensi pola asuh orang tua
A. Kendali orang tua (control)
1. Apakah menurut anda kedisiplinan dalam mendidik anak perlu diterapkan? Bagaimana? Tentu sangat perlu sekali. Kita harus didiplin dalam menerapkan aturan yang dibuat karena untuk membuat aturan itu ditaati kita harus disiplin..kita harus juga menerapkan sanksi
2. Aturan apa saja yang anda terapkan untuk mengasuh anak anda? Apakah terkait dengan budaya anda? Ya aturan dalam cara berbicara dilarang berbica yang kotor, kasar..aturan dilarang berbohong..dilarang memukul adiknya..dsb..ya pasti terkaitlah dalam budaya jawa timur kan juga mengajarkan hal tersebut…
3. Apakah anda tegas menerapkan sanksi dalam aturan tersebut? Bagaimana? Iya..ya kalau misalnya dia bohong, ngomong kasar, dan kita telah menerapkan aturan itu dilarang konsekuensinya ya disuruh masuk kamar biar dia bisa merenungi kesalahannya..saya juga mengajarkan apabila dia melakukan kesalahan dia harus minta maaf
4. Anda kan sewaktu kecil tinggal di jawa bagaimana orang tua anda menerapkan kediplinan? Ya orang tua saya sangat disiplin sekali menerapkan aturan khususnya mengenai norma masyarakat
5. Apakah orang tua anda disiplin dalam menerapkan aturan? Iya disiplin tapi kadang kadang agak longgar juga sih…

B. Kejelasan komunikasi orang tua- anak
6. Apakah anda selalu mendengarkan keluhan anak anda? Apa? Iya selalu…ya semuanya…
7. Apa anda selalu meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak anda? apa saja yang kalian bicarakan? Iya harus..ya semua mulai dari tadi di sekolah ngapain, belajar apa, dsb.
8. Apakah orang tua anda di jawa sama dengan anda selalu mendengarkan aspirasi pendapat anaknya? Misalnya apa? Iya..ya sama seperti saya menanyakan pada anak saya

C. Tuntutan kedewasaan

9. Apakah anda merasa didukung dalam segi pendidikan dari formal sampai non-formal oleh orang tua anda? tentu saja orang tua saya mendukung dan mereka tidak pernah memaksakan saya
10. Siapa menurut anda yang paling mendukung anda ? ibu saya
11. Pada saat sekarng apakah anda mendukung pendidikan formal dan non formal anak anda? Mengapa? ya tentu saja…karena pendidikan itu modal dasar kita..
12. Bagaimana anda mendukung kehidupan social anak anda dimana ada perbedaan budaya antara budaya jawa timur dan depok( jawa barat)? Ya mengajarkan anak saya bahasa Indonesia sesuai dengan bahasa di jawa barat
13. Bagaimana anda menekan emosi anda pada saat anak anda melakukan keslahan/ melanggar aturan yang anda buat? Ya dengan masuk ke kamar kemudian saya menenangkan diri baru setelah saya tenang baru menghadapi anak saya
D. Kasih sayang

14. Bagaimana anda menunjukkan rasa kasih sayang anda terhadap anak anda? Sekali kali dengan menuruti apa permintaan anak saya…
15. Apakah anda selalu ingin menunjukkan rasa kasih sayang itu pada anak anda? Apakah ada kaitannya dengan budaya anda? tentu saja..iya jelas ada kaitannya dalam budaya saya juga mengajarkan kasih sayang

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Pola Asuh
A. Pendidikan orang tua
1. Apakah dalam kebudayaan anda pendidikan sangat penting/ memegang peranan dalam pola asuh anak? Mengapa? Ya sangat penting..karena kalau di jawa pendidikan adalah nomor satu sekalipun tidak mampu untuk menyekolahkan anak tapi mereka tetap bersemangat untuk bersekolah
2. Apakah budaya jawa timur sangat mementingkan pendidikan? Mengapa? Iya sangat penting…pendidikan adalah modal dasar
3. Pola asuh apa yang anda terapkan dalam mendidik anak? Apakah juga terkait dalam budaya anda? Bagaiamana? Dengan penuh kasih sayang tapi juga tegas dalam menerapkan aturan…dalam budaya saya juga mengajarkan seperti itu…
4. Apakah anda selalu, memaksakan keinginan anak? Mengapa? Tidak..karena sesuatu yang dipaksakan akan tidak baik
B. Kelas Sosial
5. Apakah di kelas social anda saat ini sangat mementingkan mendidikan anak? Bagaimana? Mengapa? Apakah terkaait dengan budaya anda? iya sangat..pendidikan adalah nomor satu..iya terkaitlah di jawa juga seperti itu
6. Bagaimana lingkungan anda memandang pola asuh terhadap anak apakah terkait dengan budaya ? iya dengan mengutamakan pendidikan..
C. Konsep tentang peran orang tua
7. Bagaimana anda menerapkan konsep pola asuh terhadap anak? apakah terkait dengan budaya anda? dengan menerapkan aturan yang jelas dan tegas tapi penuh dengan kasih sayang..
8. Seberapa ketat dan tegas peraturan yang anda buat? Ya kalau melanggar diberikan sanksi..
9. Bagaimana peran anda sebagai orang tua dalam keluarga? Apakah masih juga terkait dengan budaya anda? ya sebagai istri bertanggung jawab dalam keluarga khususnya mendidik anak karena kita kan yang diberi tanggung jawab dalam mendidik anak


D. Kepribadian Orang tua
10. Menurut anda bagaimana kepribadian anda ?apakah kebudayaan anda berpengaruh dalam membentuk kepribadian anda? saya orangnya cenderung tertutup..mungkin iya soalnya dalam budaya jawa semua kan ada aturannya misalnya dalam perilaku, tutur kata, dan sopan santun..biasanya orang jawa cenderung mempunyai perasaan tidak enakan/ perasa kepada orang lain..
11. Bagaimana anda menerapkan pola asuh pada anak terkait kepribadian anda? saya mendidik anak supaya dia tidak jadi pemalu..tidak seperti saya..
12. Bagaiamana anda memperlakukan anak anda dalam keluarga? Dengan penuh kasih sayang

E. Kepribadian Anak
13. Menurut anda bagaimana kepribadian anak anda? saya melihat sejauh ini sih dia baik baik saja saat berteman dengan temennya bisa membaur..tidak ada masalah
14. Apakah anak anda menyukai dengan setiap aturan yang anda buat? Bagaimana anak anda menyikapinya? Iya tentu dengan menaati aturan..ya kadang kadang namanya anak kecil kadang melanggar atura itu mah biasa…
15. Apakah anak anda selalu terbuka dengan perbedaan? Misalnya perbedaan kebudayaan? Iya tentu dengan bahasa disini pakai bahasa Indonesia saat pulang kampong pakai bahasa jawa tapi juga tidak ada masalah

F. Usia Anak
16. Apakah anda menerapkan pola asuh pada anak tergantung usia mereka? Apakah terkait budaya anda? tentu saja …di jawa kebudayaan saya juga begitu disesuaikan dengan usia anak kan kita tidak bisa memaksakan anak nantinya malah jadinya gak bagus…
17. Berapakah usia anak anda saat ini ? Bagaimana anda menerapkan pola asuh pada anak seusia ini? Apakah nanti akan berbeda jika dia sudah dewasa?6 th dan 2th…tentu saja berbeda misalnya dalam memberikan sanksi disesuaikan usianya…




Wawancara Subjek 2

A. Identitas Subjek 2
Nama (Inisial) : M.R.
Jenis Kelamin : Laki laki
Usia : 36th
Pekerjaan : PNS
Pendidikan : Sarjana
Alamat : Depok

B. Daftar Pertanyaan
1. Latar Belakang Subjek
1. Apa anda disuh oleh orang tuya anda sendiri atau diasuh oleh wali? Iya diasuh orang tua sendiri
2. Bagaimana menurut anda sitem pola asuh yang anda terima terkait budaya anda? budayanya melekat dalam kehidupan sehari hari..tergambar dalam cara berbica dengan lawan bicara tergantung dari usia dan strata social.
3. Apa anda menyukai pola asuh yang mereka berikan terhadap anda? ya…karena sesuai dengan lingkungna social sekitar
4. Pada saat anda masih diasuh oleh orang tua, anda berdomisili? Di jawa…
5. Apakah kebudayaan tempat anda berdomisili pada saat itu mempengaruhi orang tua anda dalam mengasuh anda? Ya
6. Bagaimana kebudayaan anda khususnya jawa timur mengatur cara mengasuh anak? Diajarkan bertata krama, dalam menghormati orang yang lebih tua..
7. Apakah pola asuh itu mempengaruhi , kehidupan anda sehari-hari? Tentu saja..berbicara pada orang lebih tua.
8. Apakah pola asuh yang anda terima terdapat unsure-unsur budaya didalamnya? Iya
9. Sekarang anda kan sudah menikah, bagaimana anda memberikan pola asuh kepada anak anda sama dengan pola asuh yang anda terima? ya tapi disesuaikan dengan lingkungan berada tinggal..
10. Kebudayaan yang baru berati mempengaruhi ya? Tidak sangat berpengaruh tetapi ikut mempengaruhi..Contohnya? sedikit banyak dalam bahasa..sehari hari yang berkaitan dengan lingkungan sekitar
11. Sekarang kan anda tinggal di depok, anda mempunyai 2 anak, bagaimana anda mengasuh anak anda? System apa yang anda terrapkan? Ehm..saya mengasuh anak dengan menerapkan pendidikan moral yang kuat..dengan moral yang kuat menjadikan kepribadian yang kuat sehingga dia tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan…
12. Apakah kebudayaan di tempat anda tinggal sekarang mempengaruhi anda dalam mendidik buah hati anda? Bagaimana? Iya saya pilah pilah yg sesuai saya terapkan yang tidak saya tinggalkan,Saya tetap menerapkan pola asuh yang seperti apa yang saya terima dari orang tua saya sesuai dengan budaya jawa timur yang saya peroleh
13. Bahasa apa yang anda pergunakan dalam mendidik anak? Bahasa Indonesia dan bahasa jawa..
14. Mengapa anda menerapkan 2 bahasa? Ya karena hanya bahasa itu yang saya kuasai dan saya tinggal di aceh..
15. Masakan apa yang biasa anda makan sehari hari? Masakan Indonesia…

2. Daftar Pertanyaan
1. Dimensi pola asuh orang tua
A. Kendali orang tua (control)
1. Apakah menurut anda kedisiplinan dalam mendidik anak perlu diterapkan? Mengapa? Perlu karena disiplin itu harus dididik dari sejak usia dini..
2. Aturan apa saja yang anda terapkan untuk mengasuh anak anda? Apakah terkait dengan budaya anda? Ya aturan dalam cara berbicara, dan tata krama
3. Apakah anda tegas menerapkan sanksi dalam aturan tersebut? Bagaimana? Iya karena itu merupakan budaya yang umum di indonesia
4. Anda kan sewaktu kecil tinggal di jawa bagaimana orang tua anda menerapkan kediplinan? Sama saya menerapkan kedisiplinan pada anak saya
5. Apakah orang tua anda disiplin dalam menerapkan aturan? Iya disiplin



B. Kejelasan komunikasi orang tua- anak
6. Apakah anda selalu mendengarkan keluhan anak anda?mengapa? iya…Karena biar interaksinya berjalan sebagai mana mestinya..
7. Apakah itu ada kaitnnya dengan budaya anda? bagaimana kebudayaann anda memandang komunikasi antar anak? Iya..Biar terjadi komunikasi yang berimbang antara ortu dan anak..
8. Apa anda selalu meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak anda? apa saja yang kalian bicarakan apa terkait dengan budaya anda?Iya..main dengan siapa tadi ngapain di sekolah diajarin apa dsb…
9. Apakah orang tua anda di jawa sama dengan anda selalu mendengarkan aspirasi pendapat anaknya? Misalnya apa? Iya yang tadi sama…apakah orang tua anda sangat kental kebudayaannya dalam menerapkan pola asuh pada anda? iya…

C. Tuntutan kedewasaan
10. Apakah anda merasa didukung dalam segi pendidikan dari formal sampai non-formal oleh orang tua anda? Iya
11. Siapa menurut anda yang paling mendukung anda ? dua duanya
12. Pada saat sekarng apakah anda mendukung pendidikan formal dan non formal anak anda? iya..mengapa? karena itu penting
13. Bagaimana anda mendukung kehidupan social anak anda dimana ada perbedaan budaya antara budaya jawa timur dan depok( jawa barat)? Dikombinasikan diambil yang baik saja
14. Bagaimana anda menekan emosi anda pada saat anak anda melakukan keslahan/ melanggar aturan yang anda buat ? apakah terkait dengan kebuyaan yang anda terima? iya..ya dengan sabar

D. Kasih sayang
15. Bagaimana anda menunjukkan rasa kasih sayang anda terhadap anak anda terkait budaya anda? membelikan pakaian, mainan bernuansa budaya misalnya batik..
16. Apakah anda selalu ingin menunjukkan rasa kasih sayang itu pada anak anda? iya..mengapa? karena dia anak saya
17. Apakah dalam budaya anda mengajarkan seperti itu? Iya..
2.Faktor-faktor yang mempengaruhi Pola Asuh
A. Pendidikan orang tua
1. Apakah dalam kebudayaan anda pendidikan sangat penting/ memegang peranan dalam pola asuh anak? Mengapa? Otomatis..karena yang diterima selama ini adalah itu..misalnya saya mendapatkan pendidikan tata krama saya akan mengajarkan hal yang sama …
2. Apakah budaya jawa timur sangat mementingkan pendidikan? Mengapa? Ya..karena pendidikan perlu..
3. Pola asuh apa yang anda terapkan dalam mendidik anak? Apakah juga terkait dalam budaya anda? Bagaiamana? Disiplin dan religi
4. Apakah anda selalu ,memaksakan keinginan pada anak? Mengapa? Tidak..karena anak punya keinginan dan jalan hidup sendiri sendiri

B. Kelas Sosial
5. Apakah di kelas social anda saat ini sangat mementingkan mendidikan anak? Bagaimana?Apakah cocok dengan budaya anda? iya..cocok..mengutamakan pendidikan..
6. Bagaimana lingkungan anda memandang pola asuh terhadap anak apakah terkait dengan budaya ? mengutamakan pendidikan

C. Konsep tentang peran orang tua
7. Bagaimana anda menerapkan konsep pola asuh terhadap anak? apakah terkait dengan budaya anda? disiplin tata krama religi..iya budaya saya juga mengajarkan seperti itu
8. Seberapa ketat dan tegas peraturan yang anda buat anak? Proporsi sesuai perkembangan anak..
9. Dalam kebudayaan anda juga seperti itu? Iya..
10. Bagaimana peran anda sebagai orang tua dalam keluarga? Apakah masih juga terkait dengan budaya anda? iya..sebagai kepala keluarga pemimpin keluarga




D. Kepribadian Orang tua
11. Menurut anda bagaimana kepribadian anda ?apakah kebudayaan anda berpengaruh dalam membentuk kepribadian anda? iya..sangat baik jujur dan tidak sombong..
12. Bagaimana anda menerapkan pola asuh pada anak terkait kepribadian anda? menerapkan jujur baik dan tidak sombong religius
13. Bagaiamana anda memperlakukan anak anda dalam keluarga? Sama tidak membedakana, dan adil.

E. Kepribadian Anak
14. Menurut anda bagaimana kepribadian anak anda? baik
15. Apakah anak anda menyukai dengan setiap aturan yang anda buat? Suka sekali Contohnya? Buktinya anak saya selalu nurut dengan saya
16. Apakah anak anda selalu terbuka dengan perbedaan? Misalnya perbedaan kebudayaan? Iya..bagaimana anda menyikapinya? Positif..apakah anda tidak takut anak anda terpengaruh budaya luar? Iya bagaimana anda menyikapinya? Memberikan pendidikan intensif di rumah

F. Usia Anak
17. Apakah anda menerapkan pola asuh pada anak tergantung usia mereka? Apakah terkait budaya anda? iya..mengapa? biar pendidikan efektif
18. Berapakah usia anak anda saat ini ? 3th dan 1 th…bagaimana anda menerapkan pola asuh pada anak seusia ini? Apakah nanti akan berbeda jika dia sudah dewasa? Suruh belajar di sekolah…iya berbeda dalam materi pembelajaran.









Analisa teori dengan hasil wawancara
1. Dimensi pola asuh orang tua
a. Kendali Orang Tua (Control)
Dari wawancara yang kami lakukan pada 2 subjek didapatkan kesamaan inti jawaban bahwa menurut mereka kedisiplinan itu sangatlah penting untuk menegakkan suatu aturan supaya ditaati mereka juga menjelaskan bahwa budaya di jawa timur juga mengajarkan kedisiplinan
b. Kejelasan Komunikasi Orang Tua-anak (Clarity Of Parent Child Communication)
Kedua subjek sama sama berusaha untuk menyempatkan waktu mendengarkan aspirasi pendapat anaknya dimana mereka juga dapatkan hal itu dari orang tua mereka yang masih kental dengan budaya jawa timur.
c. Tuntutan Kedewasaan (Maturity Demands)
Mereka sama sama sangat mengutamakan pendidikan, mendukung kehidupan social anak demi terwujudnya cita cita ingin menjadikan anak yang sukses hal tersebut juga tercermin dalam kehidupan di jawa timur yang sangat menjunjung tinggi pendidikan
d. Kasih Sayang (Nurturance)
Setiap orang tua secara naluriah akan menyayangi anaknya dengan sangat dalam hal ini kebudayaan di jawa timur juga mengajarkan kasih sayang. Orang jawa timur cenderung selalu memperhatikan anaknya setiap waktu setiap detik sehingga ada kecenderungan kurangnya kreatifitas anak.

2. Faktor - faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh
a. Pendidikan orang tua
Dari kedua subjek yang kami wawancarai terlihat dalam menerapkan pola asuh pada anak sangatlah permisif dan demokratif terlihat dalam menerapkan aturan sesuai dengan usia mereka dan mereka selalu mendengarkan aspirasi anak mereka. Hal ini terjadi akibat pendidikan orang tua yang cukup baik yang mempengaruhi pola asuh. Terkait dengan budaya mereka ada kecenderungan orang jawa timur selalu menjunjung tinggi pendidikan sehingga mereka berfikiran untuk menyekolahkan anak setinggi langit.
b. Kelas Sosial
Dilihat dari wawancara diatas terlihat kedua subjek berada pada kelas social yang cukup baik terlihat dalam lingkungan yang selalu mengutamakan pendidikan begitu juga di jawa timur juga mementingkan pendidikan.
c. Konsep tentang peran orang tua
Dari wawancara kedua subjek bahwa mereka memilih pola asuh yang sesuai dengan budaya yang mereka dapat dari kedua orang tua mereka yaitu selalu menerapkan kedisiplinan dan memberikan sanksi tetapi disesuaikan dengan usia anak.
d. Kepribadian orang tua
Dari hasil wawancara didapatkan bahwa kepribadian mereka terbentuk dari pola asuh orang tua mereka dimana sangat kental dengan nilai nilai budaya.
e. Kepribadian Anak
Para subjek memberikan pola asuh yang sama dengan pola asuh yang mereka dapat dari orang tua mereka yang kental dengan nilai nilai budaya dan dicampur dengan budaya di tempat sekarang mereka tinggal hal tersebut yang akan membentuk kepribadian anak.
f. Usia anak
Para subjek membuat aturan dalam pola asuh disesuaikan dengan usia mereka. Dalam budaya di jawa timur pun juga memberikan pendidikan sesuai dengan usia anak. Hal ini juga telah diatur dalam undang undang pendidikan.



KESIMPULAN

Gambaran mengenai pengaruh budaya jawa timur terhadap pola asuh anak adalah bahwa kebudayaan asal orang tua mempengaruhi pola asuh orang tua kepada anak nya, selain itu mereka juga mencampur dengan kebudayaan yang baru dengan mengambil apa saja yang mereka rasa cocok .Walaupun sudah dilingkungan baru mereka masih menggunakan kebudayan tempat dia berasal karena kebudayaan tersebut telah melekat dalam diri mereka . Terkadang mereka masih menggunakan bahasa, pola asuh, dan lainnya dari daerah tempat ia berasal. Kebudayaan jawa yang mereka dapat telah membentuk kepribadian yang kuat sehingga mempengaruhi mereka dalam menerapkan pola asuh yaitu pola asuh yang permisif dan demokratif.
Sedangkan untuk faktor faktor yang mempengaruhi budaya dalam menerapkan pola asuh adalah bahwa budaya di jawa timur sangat mengutamakan pendidikan, mereka selalu mengajarkan tentang pentingnya pendidikan walaupun kehidupan susah tetapi pendidikan harus dijalankan, selain itu budaya jawa timur juga mengajarkan tentang sopan santun, kebaikan, kejujuran, sehingga akan membentuk kepribadian yang baik yang akan mempengaruhi dalam menerapkan pola asuh orang tua sehingga terbentuk kepribadian anak yang baik pula. Dalam Budaya jawa konsep peran orang tua juga diajarkan dengan baik terlihat dari tata cara berbicara kepada orang tua yang berbeda dengan teman sebaya.





































DAFTAR PUSTAKA


Zakiyah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta : Bulan Bintang, 1996
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1988)
TIM Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1988)
Elaine Donelson, Asih, Asah, Asuh Keutamaan Wanita, (Yogyakarta : Kanisius, 1990) Danny I. Yatim-Irwanto, Kepribadian Keluarga Narkotika, (Jakarta : Arcan, 1991)
Paul Hauck, Psikologi Populer, (Mendidik Anak dengan Berhasil), (Jakarta : Arcan,1993)
Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta : PT Rieneka Cipta, 1991)
Singgih D. Gunarsa dan Ny.Y. Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Jakarta : PT. BPK. Gunung Mulia, 1995)
Parsono, Materi Pokok Landasan Kependidikan, (Jakarta : Universitas terbuka, 1994)
Utami Munandar, Hubungan Isteri, Suami dan Anak dalam Keluarga, (Jakarta : Pustaka Antara, 1992)
Mohammad Shochib, Pola Asuh Orang Tua Dalam Membantu Disiplin diri, (Jakarta : PT Rieneka Cipta, 1998),
Soegarda Poebakawatja, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta : Gunung Agung, 1976)
http://www.gunadarma.ac.id/library/articles/graduate/psychology/2008/Artikel_10500364 .pdf
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_a5051_0601975_chapter1.pdf
http://dspace.widyatama.ac.id/jspui/bitstream/10364/507/4/bab2.pdf
http://ahmad-naufal-d.blog.ugm.ac.id/2011/11/09/ragam-budaya-jawa-timur/
http://fistianipooh.blogspot.com/2008/06/tugas-metodologi-penelitian.html/
http: //doblang88.wordpress.com/

1 komentar: